Di Yogyakarta, Plasma Pisang Hasilkan Berbagai Makanan Olahan Pisang

oleh

JAKCITY (Yogyakarta) – Kebun Plasma Nutfah Pisang Yogyakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta, selain fokus pada produksi bibit pisang melalui teknik kultur jaringan, juga mampu menghasilkan berbagai makanan olahan pisang. Meski tingkat produksinya masih terbatas.

Pelaksana Tugas Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Kota Yogyakarta, Sugeng Darmanto, di Yogyakarta, Jumat (1/2), mengatakan kegiatan produksi makanan olahan pisang ini dilakukan oleh laboratorium pengolahan produk pisang.

Menurut Sugeng Darmando, melalui laboratorium tersebut berbagai jenis makanan yang dihasilkan tidak hanya berasal dari buah pisang saja, juga dari bonggol pisang yang selama ini cenderung tidak dimanfaatkan oleh masyarakat. Berbagai olahan makanan yang sudah dihasilkan di antaranya keripik pisang, minuman sari pisang, keripik bonggol pisang, dan tepung pisang.

Untuk berbagai olahan pisang tersebut harga yang ditawarkan cukup terjangkau, misalnya satu gelas plastik minuman sari pisang berukuran kecil dibanderol Rp500. Sedangkan untuk keripik ukuran 250 gram dihargai Rp5.000.

Jenis pisang yang banyak digunakan sebagai bahan baku olahan pisang yang dihasilkan Kebun Plasma Nutfah Pisang adalah pisang Raja Bagus dan Ambon yang memang banyak digemari masyarakat.

“Untuk tepung pisang, kami memang jarang memproduksinya karena peminatnya sedikit,” kata Sugeng yang memastikan seluruh produk olahan pisang tersebut sudah memperoleh nomor pangan industri rumah tangga (PIRT).

Sugeng menyebut makanan olahan pisang tersebut belum dijual secara bebas karena keterbatasan tempat produksi dan keterbatasan sumber daya manusia (SDM) dari kelompok pengolah pisang. Karena itu, hasil olahan pisang baru bisa dinikmati saat ada warga yang berkunjung ke Kebun Plasma Nutfah Pisang Yogyakarta.

“Saat produk tersedia, pengunjung bisa membelinya,” katanya.

Pengembangan berbagai olahan pisang tersebut lebih ditujukan untuk edukasi ke masyarakat bahwa pisang tidak hanya bisa dinikmati secara langsung, juga bisa diolah menjadi berbagai produk makanan yang menambah nilai jual.

“Setiap Selasa dan Kamis, kami membuka kesempatan bagi warga untuk berkunjung ke kebun. Biasanya, waktu kunjungan ini dimanfaatkan untuk kegiatan ‘field trip’ dari sejumlah sekolah mulai TK hingga SMP yang ingin belajar tentang seluk beluk pisang,” katanya.

Meskipun jenis produk olahan pisang yang dihasilkan masih terbatas, pihaknya akan berupaya melakukan inovasi untuk diversifikasi produk, salah satunya mencoba membuat selai pisang. (Ant/JC-02)